PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagai sebuah Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa

PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagai sebuah Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia secara tidak langsung menghadapi banyak tuntutan, salah satunya adalah bagaimana Indonesia mampu menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negaranya. Pada tahun 2017 tercatat bahwa jumlah lulusan sarjana/diploma di Indonesia hanya 11 dari total penduduk Indonesia, hal ini menunjukkan bahwa minat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi masih sangat rendah (Leandha, 2017). Kondisi ini kemudian menuntut pemerintah untuk bekerja keras dalam menyediakan lembaga perguruan tinggi yang berkualitas dan mudah dijangkau serta diminati oleh masyarakat. Dengan mengutamakan kualitas perguruan tinggi disini diharpkan akan semakin mudah untuk menarik minat masyarakat dalam menempuh pendidikan tinggi (Leandha, 2017). Lembaga perguruan tinggi di Indonesia yang berjumlah lebih dari 3000 dengan jumlah perguruan tinggi negeri sebanyak 121 dan perguruan tinggi swasta berjumlah 3104 (BPS, 2017). Jumlah perguruan tinggi yang fantastis ini kemudian mendorong diadakannya evaluasi terhadap mutu pendidikan yang ada dalam setiap perguruan tinggi baik pada PTS maupun PTN oleh lembaga Dikti. Hal ini dilakukan agar kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia dapat terjaga dan Indonesia mampu mencetak lulusan yang berkualitas dan mampu membangun bangsa menjadi lebih baik lagi, sebagaimana pernyataan diatas (Amirullah, 2017). Evaluasi terhadap kualitas perguruan tinggi di Indonesia ini di lakukan sejak tahun 2014, DIKTI secara aktif mengevaluasi kinerja dari PTS dan PTN di Indonesia. Sepanjang tahun 2014-2015, DIKTI mengevaluasi seluruh Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia yang kemudian menemukan sebanyak 576 perguruan tinggi di Indonesia dalam kondisi tidak sehat. Kondisi ini dilanjutkan dengan catatan laporan bahwa pada 29 September 2015 sebanyak 243 perguruan tinggi berada dalam status nonaktif, dan 23 November 2015 tercatat 122 perguruan tinggi dalam pembinaan. Pada tanggal 1 Desember 2015, jumlah perguruan tinggi dalam pembinaan berkurang menjadi 99 dan pada 28 Desember 2015 tersisa 23 perguruan tinggi yang masuk kategori dalam pembinaan. Tercatat juga dalam laporan itu, sebanyak 11 PTS telah dicabut izinnya, sebanyak 22 PTS dalam proses pembinaan untuk dinonaktifkan, dan 10 PTS konflik internal dalam proses hukum (Forlap Dikti, 2016). Evaluasi yang dilakukan oleh DIKTI ini kemudian menjadi awal dari proses pengembangan lembaga perguruan tinggi di Indonesia agar mampu beroperasi lebih efektif lagi kedepannya. Hasil evaluasi dari DIKTI disini mulai diajalankan pada tahun 2016, yang sejak Januari 2016 hingga Mei 2016 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi telah menutup sebanyak 13 perguruan tinggi swasta. Selain itu, dalam laporan yang sama ditulis bahwa sebanyak 11 PTS dicabut izinnya, 22 PTS dalam proses pembinaan untuk dinonaktifkan, dan 10 PTS konflik internal dalam proses hukum. Masalah-masalah yang muncul ini kemudian menurut laporan dalam forlap DIKTI diakibatkan karena adanya program studi/PT yang tidak terakreditasi mengeluarkan gelar akademik/vokasi, program studi/PT memberikan ijazah kepada orang yang tidak berhak, terjadi sengketa diantara penyelenggara yang menyebabkan terganggunya penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi, dan perguruan tinggi atau program studi tidak lagi memenuhi syarat pendirian PT atau pembukaan prodi lagi (Forlap Dikti, 2016). Hal ini kemudian menunjukkan bahwa PTS dan PTN di Indonesia mengalami permasalahan didalam institusinya yang membuat pemerintah merasa perlu untuk turun tangan dan menyelesaikannya. Permasalahan dalam institusi ini sebagaimana yang diberitakan oleh Tempo (Amirullah, 2017) berhubungan dengan kualitas dari institusi tersebut. Performa organisasi menjadi parameter bagi organisasi itu dapat dikatakan efektif atau tidak, sebagaimana yang kemudian diungkapkan oleh Eidy (2015) bahwa performa organisasi adalah kunci utama dalam memahami organisasi itu sendiri. Eidy (2015) menyebutkan bahwa menjadi organisasi yang efektif merupakan tujuan dari setiap organisasi yang ada di dunia ini, sehingga kemudian banyak organisasi yang berlomba-lomba untuk membuktikan ke-efektifan tersebut melalui berbagai macam justifikasi dan parameter. Perihal dengan hal tersebut maka lembaga-lembaga pendidikan juga berlomba-lomba untuk menunjukkan performa yang baik agar kemudian dapat layak dan sesuai dengan standar kelayakan dari lembaga DIKTI. Masalah yang kemudian dilaporkan dalam temuan DIkti disini diantaranya adalah sebagai berikut Pelanggaran itu antara lain berupa program studi/PT yang tidak terakreditasi mengeluarkan gelar akademik/vokasi, program studi/PT memberikan ijazah kepada orang yang tidak berhak, terjadi sengketa diantara penyelenggara yang menyebabkan terganggunya penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi, dan perguruan tinggi atau program studi tidak lagi memenuhi syarat pendirian PT atau pembukaan prodi lagi (Purnomo, 2016) PTS terbukti melakukan pelanggaran, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Untuk pelanggaran ringan dan sedang, misalnya konflik internal yayasan atau tidak disiplin dalam menjamin mutu, PTS diberi waktu 6 bulan untuk berbenah (Kopertis12, 2017) Sesuai dengan ketentuan, rasio dosen dan mahasiswa untuk bidang Ilmu Pengetahuan Alam adalah 1 berbanding 30. Adapun untuk Ilmu Pengetahuan Sosial 1 berbanding 4 (Bagus, 2016) Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut kemudian dapat dilihat bahwa permasalahan utama atas penutupan PTS di Indonesia ini adalah karena adanya ketidakseimbangan dalam struktur organisasi, dengan jumlah mahasiswa dan dosen tidak seimbang, adanya konflik internal dalam yayasan, kurangnya pengendalian secara internal terhadap pengendalian mutu perguruan tinggi dan lingkungan yang menjadi salah satu basis kekurangan dalam pelaksanaan pendidikan. Struktur organisasi, konflik dan internal kontrol identic dengan permasalahan diantara penyelenggara didalam organaisasi itu sendiri dengan pemilik, baik personal maupun yayasan. Pada dasarnya struktur dalam organisasi terdiri dari unit-unit berbeda tergantung dari kebutuhan setiap organisasi. meskipun unit-unit dalam organisasi cenderung bekerja secara terpisah, akan tetapi pada dasarnya unit-unit ini bekerja untuk mencapai tujuan yang sama dalam organisasi. Efektifitas organisasi disini kemudian dapat dilihat dari kinerja yang dihasilkan oleh setiap resource dalam organisasi (Donaldson, 2006). Basol dan Dogerlioglu (2014) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa struktur dalam organisasi memiliki peran yang besar terhadap efektifitas organisasi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam jurnal penelitian Kiani dan Kahnoog (2013) yang membahas tentang struktur organisasi sebagai mesin utama didalam organisasi yang secara aktif berjalan dan berpengaruh terhadap setiap langkah dan keputusan yang diambil oleh organisasi. Setiap bagian dalam organisasi memiliki peran penting dalam dinamika kerja organisasi, untuk itulah kemudian struktur organisasi memiliki peran penting dalam proses bekerjanya organisasi (Basol dan Dogerlioglu, 2014). Struktur dalam tubuh PTS maupun PTN tetap dikendalikan oleh otoritas formal baik personal/yayasan/pemerintah, yang setiap penyelenggaraannya selalu dipantau dan harus mendapatkan persetujuan secara formal. Otoritas formal ini menurut jurnal penelitian dari Basol dan Dogerlioglu (2014) berpengaruh dalam proses bekerjanya organisasi dan hal ini kemudian yang akan menentukan apakah organisasi tersebut mampu berjalan secara efektif atau tidak. Hal yang sama juga berlaku untuk kontrol internal dan manajemen konflik didalam organisasi itu sendiri. Tidak adanya pengendalian internal akan mutu pendidikan dan konflik didalam yayasan sendiri menjadi permasalahan utama PTS tidak mampu berjalan secara efektif. Internal control dan manajemen konflik berjalan seiring dalam melihat efektifitas organisasi. Sebagaimana dalam jurnal penelitian yang ditulis oleh Channar et al (2015) bahwa internal control dalam organisasi akan membantu organisasi berjalan dengan lebih stabil dan konsisten sesuai dengan visi misi yang organisasi miliki. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang diungkapkan oleh Meier et al (2013) bahwa konflik dapat terjadi karena adanya perselisihan internal antar manpower didalam organisasi yang pada akhirnya akan membuat organisasi tidak mampu berjalan secara kondusif dan bergerak secara sporadic. Evaluasi terhadap perguruan tinggi di Indonesia ini kemudian juga terjadi karena permasalahan lingkungan, dengan lokasi organisasi yang tiba-tiba menghilang, tidak terjangkau oleh mahasiswa ataupun lokasi tersebut tidak mendukung terjadinya perkuliahan secara langsung. Sebagaimana yang tertulis dalam permasalahn berikut ini Universitas Negeri Manado yang melakukan pelanggaran dalam membuka kelas jauh, ada juga PTS yang menghilang ialah Sekolah Ilmu Manajemen IMNI. Di pangkalan data kementerian, lembaga ini berstatus dalam pembinaan. KetikaKompasmendatangi alamatnya di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ternyata gedungnya sudah dijual. Demikian pula dengan kampus cabangnya di Gondangdia, Jakarta Pusat. Gedungnya sudah dibongkar, berganti menjadi perkantoran (Kopertis12, 2017 Bagus, 2016) Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan organisasi memiliki pengaruh yang kuat terhadap efektifitas organisasi itu sendiri. Sebagaimana yang kemudian diungkapkan oleh Ordiz dan Fernandez (2005) bahwa dalam sebuah organisasi, lingkungan dari organisasi itu sendiri memainkan peranan yang cukup besar, mengingat peranan tersebut diantaranya adalah untuk melancarkan segala aktivitas yang terjadi di dalam organisasi itu sendiri. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Avadikyan et al (2001) menyebutkan bahwa performa organisasi dapat ditentukan dari bagaimana lingkungan disekitar organisasi itu sendiri, dalam hal ini berarti lingkungan memiliki pengaruh yang besar terhadap kelancaran dan perkembangan organisasi. Sehingga baik Avadikyan et al, (2001) dan Ordiz dan Fernandez, (2005) sama-sama menyimpulkan bahwa organisasi memiliki lingkungan yang kondusif dan segala sumber daya yang ada disekitarnya mendukung kinerja organisasi maka performa organisasi akan menunjukkan hasil yang baik dan efektif. Tulisan Eydi (2015) tentang bagaimana melihat efektifitas organisasi disini menyoroti beberapa variabel diantaranya adalah seberapa besar konflik dan pengendalian konflik yang ada, bagaimana struktur organisasi, lingkungan, performa dan kontrol menjadi aspek penting dalam melihat efektifitas dari organisasi. Kennerley dan Neely (2003) dalam tulisannya menyebutkan bahwa dalam mengukur tentang performa organisasi disini yang paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana organisasi mampu mengatasi tantangan dari dinamika lingkungan yang ada. Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat tuntutan akan selalu bergerak dan berubah mengikuti dinamika yang terjadi akan berpengaruh terhadap kondisi internal organisasi, karena organisasi yang tidak mampu menghadapi dinamika yang ada akan tersingkir dari kompetisi (Kennerley dan Neely, 2003). Sehingga kemudian lingkungan bisnis menjadi aspek penting bagi organisasi untuk tetap siaga dan secara fleksibel mampu menghadapi tantangan yang ada. Dinamika dari lingkungan yang terjadi disini menurut penelitian Ardakani et al (2012) meliputi dinamika sosial, politik dan ekonomi, karena ketiga hal tersebut akan menjadi pengaruh penting bagi organisasi untuk membuat kebijakan. Lingkungan bisnis menjadi variabel penting bagi organisasi, namun menurut Eydi (2015) melihat dari lingkungan saja tidak cukup, terdapat bebeapa hal lainnya seperti manajemen konflik dan struktur organisasi yang memiliki peran penting dalam pembahasan efektifitas organisasi. Taher et al (2008) menulis bahwa manajemen konflik memiliki pengaruh yang besar terhadap performa organisasi, dan performa inilah yang kemudian sering dijadikan sebagai pijakan dalam menilai efektifitas organisasi. Konflik dibutuhkan dalam menjaga ritme kerja organisasi dan meningkatkan kompetensi dari setiap SDM yang ada dalam organisasi, namun jika konflik tidak ditata dan dikendalikan maka akan menjadi boomerang yang akan mengancam organisasi, ini adalah poin penting dari penelitian yang dilakukan oleh Taher et al (2008). Konflik dalam organisasi dapat berasal dari berbagai macam sumber, khususnya adalah berasal dari internal organisasi, seperti yang diungkapkan oleh Turkalj et al (2008) yang menyebutkan bahwa konflik dapat berasal dari gap antar setiap SDM yang secara formal terlihat dari struktur organisasi. Gap yang beraal dari struktur organisasi disini diakibatkan dari adanya batasan-batasan yang membatasi kompetensi dan perilaku dari setiap SDM didalam organisasi (Turkalj et al, 2008). Batasan-batasan seseorang untuk melakukan sesuatu dalam organisasi ini kemudian berkaitan dengan otoritas dalam menjalankan segala sesuatu, sebagaimana yang ditulis oleh Rieth (2003) bahwa batasan dalam struktur organisasi oada akhirnya menjadikan seseorang tidak dapat beraktifitas secara maksimal, dan termasuk dalam pembatasan kreativitas dan inovasi. Sehingga hal ini dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap performa organisasi. Disertasi tentang Dampak Management Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi Terhadap Efektifitas Organisasi ini merupakan studi tepat untuk dilakukan saat ini, mengngat dengan maraknya kasus penutupan organisasi yang berdasarkan karena kurang memiliki performa bagus. Dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang telah disebutkan diatas, penelitian ini akan menggabungkan beberapa variabel sentral dalam organisasi untuk membahas tentang efektivitas organisasi, variabel tersebut diantaranya adalah Management Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi. Selain itu, penelitian ini akan mengkaji fenomena yang masih hangat dalam dunia pendidikan di Indonesia, sehingga dengan melakukan penelitian ini diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan yang tengah terjadi, seperti merujuk pada bagaimana membuat organisasi berjalan secara efektif dan mampu melewati evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah dan memiliki akreditasi yang baik. Penelitian ini mengambil Yogyakarta sebagai lokasi penelitian, Yogyakarta sendiri masuk kedalam wilayah Kopertis V yang sejauh ini memiliki 106 Perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta (BPS, 2017). Sebagai kota yang pernah dijuluki Kota Pendidikan Yogyakarta pada tahun 2008-2013 terdapat 11 PTS yang ditutup di Yogyakarta (Yulianingsih, 2013), sedangkan pada tahun 2017 sendiri terdapat 5 PTS yang ditutup (Kopertis12, 2017). Jumlah ini masih belum dikurangi dengan 3 PTS yang tengah dievaluasi pada tahun 2017 dan menunggu keputusan apakah ditutup atau akan dibina oleh Kopertis (Sunartono, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa dinamika yang terjadi dalam dunia pendidikan di Yogyakarta cukup pelik dan mengakibatkan terjadinya penurunan kadar kualitas dalam standar mutu pendidikan pada PTS di Yogyakarta. masalah utama yang kemudian terjadi disini diantaranya adalah permasalahan kurangnya mahasiswa dan dosen serta kurangnya minat pada prodi-prodi baru yang sepi peminat (Sunartono, 2017). Semakin menurunnya jumlah PTS di Yogyakarta dari tahun 2008-2017 pada akhirnya membuat peneliti merasa tertarik untuk melihat bagaimana manajemen organisasi yang terjadi didalam tubuh PTS/PTN di Yogyakarta. Manajemen organisasi menjadi permasalahan yang cukup serius ketika pada akhirnya terdapat banyak kegagalan dari organisasi untuk mempertahankan organisasinya berdiri. Alasan untuk mengangkat tema tentang manajemen organisasi ini juga didasarkan pada terdapatnya kesenjangan secara praktis dan teoritis dalam memahami tentang manajemen organisasi. Secara teoritis, kesenjangan yang terjadi adalah pada argumentasi-argumentasi mengapa efektifitas organisasi menjadi penting untuk dikaji dalam memahami manajemen organisasi. Hal ini kemudian pernah ditulis oleh Eydi (2015) dalam penelitiannya yang menganggap bahwa secara historis, pembahasan tentang efektifitas organisasi tidak pernah bisa berhenti karena adanya banyak kompleksitas dari berbagai sudut pandang akan esensi dari kata efektifitas itu sendiri. Secara teoritis, Legaard dan Bindselv (2006) dalam tulisannya menyebutkan bahwa organisasi harus dibangun secara efektif dan efisien agar tujuan dari organisasi dapat terwujud, karena itulah kemudian seruan we must be effective sering digaungkan oleh para pelaku organisasi. Legaard dan Bindselv (2006) juga berargumen bahwa organisasi yang berjalan secara efektif maka akan mempengaruhi setiap pihak yang ada didalamnya, seperti kepuasan karyawan dan konsumen, kinerja yang lebih baik dan tentunya performa organisasi yang semakin meningkat. Pendapat Legaard dan Bindselv (2006) akan efektifitas organisasi ini hanya menjelaskan bahwa organisasi dikatakan efektif ketika kemudian hanya dilihat dari performa organisasi. Legaard dan Bindselv (2006) tidak menjelaskan efektif bagi organisasi secara implisit namun mencerminkannya dengan performa organisasi yang ada, sehingga terdapat kerancuan dan bias dalam pembahasan kata efektif itu sendiri. Hal ini kemudian juga disuarakan oleh Eydi (2015) yang memandang akan kerancuan kata efektif tidak mampu memberikan solusi bagaimana pengukuran akan efektifitas ini berlangsung. Oleh karena itu secara teoritis, pemahaman akan bagaimana efektifitas organisasi bekerja disini akan mengadaptasi model contingency approach dari Donaldson (2006) yang menguraikan bagaimana efektifitas organisasi bekerja dimulai dari dinamika yang dihasilkan dari tiap unit organisasi. Donaldson (2006) disini mengungkapkan bahwa setiap organisasi harus menghadapi musuh utama yaitu adanya misfit dan performance loss, sehingga untuk menghandari hal tersebut maka dibutuhkan sebuah perencanaan yang matang dalam upaya mencapai goals organisasi. Meskipun teori yang ditawarkan oleh Donaldson (2006) ini masih berfokus pada performa, namun Donaldson (2006) menstruktur performa dari sudut pandang kontingensi yang kemudian melihat bagaimana kinerja organisasi dari setiap unit yang ada. Sedangkan secara empriris, kesenjangan yang terjadi adalah pada tataran seberapa banyak fenomena yang menjelaskan tentang permasalahan efektifitas organisasi. Dalam dunia pendidikan, lembaga pendidikan sebagai organisasi yang menaungi seringkali melakukan maneuver yang hanya diketahui oleh tataran pengurus tinggi dan menutupinya dari pelaksana harian yang mengakibatkan terjadinya missed communication dan miss-conception secara internal (Cornali, 2012). Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Cornali (2012) bahwa alasan-alasan seperti karena kondisi finansial ataupun perubahan arah politik menjadi salah satu dasar kehancuran bagi lembaga Perguruan Tinggi ketika hal itu tidak disampaikan secara terbuka kepada seluruh pengelola internal organisasi. Jika lembaga Perguruan Tinggi dikelola dengan manejemen yang baik maka akan memberikan dampak yang baik pula bagi organisasi itu sendiri, hal ini ditegaskan dalam penelitian Andrew dan Johansen (2012) yang menyebutkan bahwa dalam tubuh lembaga pendidikan segala sesuatu harus berjalan tersinkronisasi satu sama lain dan memiliki integritas yang tinggi dalam upaya pencapaian hasil yang maksimal agar dalam setiap evaluasi kerja yang dilakukan tidak akan berdampak buruk bagio lembaga pendidikan tersebut.. Secara empiris, penelitian yang dilakukan oleh Cornali (2012) dengan membandingkan Perguruan Tinggi dibeberapa Negara menyebutkan bahwa efektifitas dan efisiensi dari Perguruan tinggi dapat tercapai jika terdapat keseimbangan dalam beberapa hal. Diantaranya adalah perbandingan jumlah tenaga didik dan mahasiswa, adanya keterbukaan dalam komunikasi serta adanya kesamaan visi pada seluruh orang yang ada di organisasi itu sendiri (Cornali, 2012). Hal ini tentu saja berbeda dengan kenyataan yang ada di Indonesia dengan PTS-PTS yang ditutup tersebut mengalami masalah pada ketersediaan jumlah pendidik dan terjadinya permaslaahan komunikasi dan persepsi diantara pengelola PTS itu sendiri (Amirullah, 2017). Hal ini juga ditekankan dalam penelitian yang dilakukan oleh Kenny (2008) yang menyebutkan bahwa keseimbangan dalam tubuh universitas pada akhirnya akan membawa organisasi berjalan secara efektif dan efisien. Penelitian yang dilakukan oleh Kenny (2008) yang memaparkan bahwa sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, Universitas harus mampu menyerap segala perubahan termasuk melakukan perombakan dalam tubuh organisasi untuk mengikuti konsep manajemen organisasi modern. Hal ini penting untuk perkembangan sebuah Universitas, seperti dalam temuannya Kenny (2008) menekankan bahwa Universitas akan mampu menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan ketika organisasi secara efektif dan efisien mampu mengesampingkan isu personal dan beradaptasi dengan lingkungan yang terus bergerak maju. Kenny (2008) juga menjelaskan bahwa komunikasi dan keterbukaan dalam tubuh Universitas akan memberikan dampak yang baik bagi kemajuan pendidikan di lembaga perguruan tinggi serta membuat peringkat Universitas menjadi semakin baik. Hal ini kemudian berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia yang permasalahan utama dari penutupan PTS terjadi pada adanya konflik internal diantara pengurus yayasan dan pengelola PTS. Seperti permalasahan internal yang terjadi di Yayasan Gotong Royong Bondowoso tahun 2010, fenomena kebangkrutan beberapa PTS di Banten pada tahun 2009 yang mengancam penutupan PTS (Amirullah, 2017). Fakta empiris yang terjadi di Indonesia ini berbanding terbalik dengan beberapa hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa penting kiranya untuk menjaga agar permasalahan keuangan organisasi diberitakan secara terbuka kepada seluruh staff organisasi (Cornali, 2012) dan penting untuk menjaga komunikasi top-doqn secara linier dalam organisasi untuk membuat organisasi berjalan lebih efektif dan efisien (Kenny, 2008). Kebangkrutan PTS disini diakibatkan oleh banyak hal seperti kekurangan mahasiswa dan konflik internal. Konflik internal terjadi jika tidak ada kendali internal yang baik dalam tubuh Perguruan tinggi. Kendali internal ini menurut Ordiz dan Fernandez (2005) mencakup bagaimana manajemen mampu memaksimalkan upaya dari sumber daya yang ada dalam tubuh organisasi. tidak adanya teamwork dan kurang kompeten merupakan masalah yang banyak dihadapi dalam tubuh organisasi (Ordiz dan Fernandez, 2005). Kondisi inilah yang kemudian membuat Dikti pada tahun 2016 melakukan evaluasi terhadap PTS-PTS yang beroperasi dan menutup 13 PTS di Indonesia karena dianggap tidak memenuhi standar evaluasi Dikti. Selain itu Dikti melakukan pembinaan terhadap 122 PTS untuk dikaji lebih lanjut lagi, hal ini menurut Ordiz dan Fernandez (2005) merupakan permasalahan internal organisasi yang tidak mampu memenuhi persyaratan yang sudah dituangkan dalam peraturan/kebijakan. Sedangkan untuk practical gap disini melihat dari penelitian-penelitian terdahulu yang telah menelusuri tentang Dampak Management Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi Terhadap Efektifitas Organisasi. Belum ada penelitian yang secara langsung menggabungkan empat variabel (Management Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi) untuk meihat efektifitas organisasi secara langsung dan ini menjadi poin penting bagi diangkatnya tema ini dalam disertasi yang akan ditulis. Rumusan Masalah Penelitian ini akan mengambil latar dalam institusi pendidikan tinggi dari sebuah perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Penutupan dan penghentian PTS di Indonesia yang sudah terjadi sejak tahun 2016 ini memberikan dampak yang besar bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang harus menata ulang sistem pendidikan didalam organisasi mereka. Dalam Permenristekdikti tahun 2015 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, Dan Pendirian, Perubahan, Pencabutan Izin Perguruan Tinggi Swasta mengatur secara jelas batas-batas perguruan tinggi baik negeri atau swasta dapat dibubarkan atau dicabut izinnya. Mengenai hal ini, permasalahan yang terdeteksi mayoritas adalah karena perguruan tinggi tidak berjalan secara efektif dan menunjukkan mutu pendidikan yang buruk. Laporan dari DIKTI menyebutkan bahwa salah satu yang terjadi di dalam PTS yang ditutup adalah karena PTS tersebut memiliki masalah internal, dengan tidak adanya kontrol internal diantara pemilik/yayasan dengan pengelola PTS membuat PTS bejalan kurang tersistematis dan memunculkan banyak konflik diinternal organisasi itu sendiri. Kurangnya internal kontrol ini mengakibatkan manajemen konflik tidak berjalan dengan baik dan konflik dibiarkan menjadi bola liar panas yang kemudian merusak kinerja tim dalam organisasi itu sendiri. Kurangnya internal kontrol dan rendahnya penanganan konflik inilah yang kemudian menjadi penyebab PTS tidak berjalan secara efektif dan mengalami penurunan dalam manajemennya. Selain itu, efektifitas organisasi juga berhubungan dengan struktur organisasi yang komunikasi yang terjadi dalam struktur organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya mengakibatkan internal kontrol didalam organisasi menjadi bermasalah dan berakhir pada konflik. Seperti ketika kemudian hubungan antara pemilik/yayasan dengan pengelola PTS tidak berjalan dengan baik maka akan mengakibatkan rendahnya internal kontrol yang terjadi didalamnya. Selain itu permasalahan eksternal yang menjadi salah satu penyebab organisasi tidak berjalan secara efektif adalah lingkungan organisasi. Seperti yang terjadi pada PTS di Papua yang ditutup karena menjalankan program kelas jarak jauh, hal ini membuktikan bahwa lingkungan yang kurang ondusif akan berpengaruh terhadap operasional didalam organisasi itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka pokok permasalahan utama dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah dampak dari Management Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis serta dampaknya pada Efektifitas Organisasi pada Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta di Indonesia Tujuan Penelitian Penelitian ini merupakan studi kasus yang berfokus pada pengembangan deskripsi dan eksplanasi mengenai dinamika efektifitas organisasi pada perguruan tinggi di Indonesia, dengan tujuan untuk Mengetahui dampak Manajemen Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi Terhadap Efektifitas Organisasi. Menganalisis faktor yang paling dominan yang berpengaruh paling dominan diantara Manajemen Konflik, Internal Control, Lingkungan Bisnis dan Struktur Organisasi Terhadap Efektifitas Organisasi. Kegunaan Penelitian Kegunaan secara Praktis Secara praktis, penelitian ini diharapkan untuk mampu memecahkan permasalahan terkait dengan manajemen organisasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk mampu memberikan solusi secara praktis tentang bagaimana PTS/PTN mampu mengelola organisasi secara lebih efektif dan menghindari terjadinya pembekuan ataupun hasil evaluasi yang negatif atas kondisi manajemen dalam PTS/PTN itu sendiri. Kegunaan secara Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan untuk mampu menyempurnakan keleman dalam penelitian-penelitian terdahulu sebelumnya tentang manajemen organisasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk bisa memberikan sumbangsih bagi pemahaman akan teori manajemen organisasi dan bermanfaat bagi dunia akademis untuk mampu mengembangkan teori manajemen organisasi kedalam lingkup yang lebih luas lagi. Y, dXiJ(x(I_TS1EZBmU/xYy5g/GMGeD3Vqq8K)fw9
xrxwrTZaGy8IjbRcXI
u3KGnD1NIBs
RuKV.ELM2fiVvlu8zH
(W uV4(Tn
7_m-UBww_8(/0hFL)7iAs),Qg20ppf DU4p
MDBJlC5
2FhsFYn3E6945Z5k8Fmw-dznZxJZp/P,)KQk5qpN8KGbe Sd17 paSR 6Q w I
bSources SelectedStyleAPASixthEditionOfficeOnline.xsl StyleNameAPA Version6 xmlnsbhttp//schemas.openxmlformats.org/officeDocument/2006/bibliography xmlnshttp//schemas.openxmlformats.org/officeDocument/2006/bibliography/bSources