Penanganan pasca panen produk pertanian adalah tahap-tahap kegiatan sejak pemanenan hingga siap dipasarkan atau di konsumsi

Penanganan pasca panen produk pertanian adalah tahap-tahap kegiatan sejak pemanenan hingga siap dipasarkan atau di konsumsi. Jika tidak dilakukan secara baik akan menyebabkan kerusakan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan pasca panen antara lain dengan penggunaan suhu rendah, modifikasi atmosfer, pemberian bahan kimia, pelapisan lilin, dan edible coating 1. Edible coating merupakan suatu lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan serta mudah diuraikan alam (biodegradable) yang berfungsi mencegah perubahan kimia, fisik dan biologi. Disamping itu edible coating dapat mencegah perpindahan massa, sebagai pembawa aditif, merupakan barrier terhadap uap air serta pertukaran gas O2 dan CO2 3. Satu keuntungan besar menggunakan edible coating adalah beberapa bahan aktif dapat dimasukkan ke dalam matriks polimer dan dikonsumsi dengan makanan, sehingga dapat mempertahankan gizi dan atribut sensorik12.
Banyaknya pengawet berbahaya menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, karena dampak yang ditimbulkan beresiko tinggi terhadap kesehatan. Beberapa bahan alami dapat digunakan sebagai pengawet (edible coating) khususnya pada buah yang langsung dimakan tanpa mengupas kulitnya. Gel lidah buaya adalah bahan alami yang berpotensi sebagai edible coating karena terdiri dari polisakarida yang mengandung banyak komponen fungsional. Sifat antimikroba dan kemampuan antioksidan gel lidah buaya mampu menghambat kerusakan pasca panen 1 6. Gel lidah buaya dapat membuat lapisan seperti lilin serta mudah diaplikasikan. Kelemahannya adalah gel tidak stabil, mudah menjadi encer akibat sifat reologinya. Jika gel kontak langsung dengan udara dan cahaya warnanya menjadi merah muda sampai kecoklatan 6, timbul flavor yang tidak sedap dan kehilangan asam amino seperti lisin. Kekentalan gel lidah buaya menurun drastis mendekati kekentalan air bila disimpan pada suhu kamar selama 24 – 36 jam, hal ini disebabkan karena hidrolisis polisakarida oleh enzim yang masih mempunyai aktivitas tinggi 7. Berdasarkan hal ini perlu kiranya dilakukan penelitian lebih mendalam tentang perlakuan kondisi dan lama penyimpanan terhadap stabilitas gel lidah buaya sebagai edible coating. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh kondisi dan lama penyimpanan terhadap karakteristik gel lidah buaya sebagai edible coating.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa pada bulan Januari tahun 2018 sampai bulan Mei tahun 2018. Alat-alat yang digunakan adalah timbangan digital, kulkas, pisau, blender, pipet volumetrik, gelas piala, cawan porselen, cawan petri, gelas ukur, erlenmeyer, neraca analitik, inkubator 30 °C, pH-meter, refraktometer, viscosimeter, dan tabung reaksi. Bahan-bahan yang digunakan adalah daun lidah buaya yang didapatkan dari petani di desa Taro Kabupaten Gianyar Propinsi Bali, asam sitrat, klorin dan aquades.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor dan dua kali ulangan meliputi : Faktor 1 adalah kondisi penyimpanan gel lidah buaya yang terdiri dari T1 ( Suhu Dingin) dan T2 (Suhu Kamar). Faktor 2 adalah perlakuan lama penyimpanan yang terdiri dari P1(1hari), P2 (2 hari) , P3 (3 hari) , P4 (4 hari) , P5 (5 hari) , P6 (6 hari) , P7 (7 hari) , P8 (8 hari). Dari perlakuan tersebut maka perlakuan kombinasinya menjadi 2×8 = 16, dengan ulangan sebanyak dua kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan.

Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dimulai dari pembuatan gel lidah buaya. Optimasi teknik pencucian untuk menghilangkan lendir berwarna kuning (yellow zap) dan bau tidak sedap yang dapat menurunkan mutu gel. Untuk mencegah gel terkontaminasi, daun lidah buaya harus ditangani dengan hati-hati dan direndam dalam klorin yang dapat menurunkan jumlah mikroba di luar daun4. Setelah itu dilakukan homogenisasi selama 10 menit. Homogenisasi yang terlalu lama dapat menyebabkan reaksi pencoklatan enzimatis pada gel lidah buaya 4. Stabilisasi gel lidah buaya dengan perlakuan pemanasan dengan suhu 85°C selama 5 menit dan penambahan asam sitrat 4% (Gambar 1). High Temperture Short Time (HTST) adalah merupakan metode yang efektif untuk mengurangi munculnya bau dan kehilangan aktifitas biologi gel lidah buaya 4. Parameter yang diamati meliputi perubahan bobot, kadar air, pH, warna, serta kekentalan. Dilanjutkan dengan penentuan umur simpan, untuk mengetahui daya tahan gel lidah buaya selama penyimpanan pada suhu dingin dan suhu ruang selama 8 hari. Parameter yang diamati adalah kadar air, pH, perubahan bobot, warna, serta kekentalan. Data dari hasil pengukuran tersebut diuji secara statistik menggunakan metode BNT dengan media pengolahan SPSS. Untuk mengetahui pengaruh aplikasi gel lidah buaya pada buah-buahan dengan formula edible coating yang paling baik dari hasil penelitian ini akan dilakukan penelitian lanjutan (penelitian berbeda).